kata awalku untuk mereka

Pengantar yang tak biasa

“ Kalau saja aku adalah Muhammad” kata Iqbal, “Aku takkan turun kembali ke bumi setelah di Sidratul Muntaha”

seorang sufi, abdul quddus berpuisi senada;
Sekiranya ku menjadi Muhammad
Takkan sudi ku beranjak ke bumi
Setelah sampai di dekat ‘Arsyi

Iqbal dan sufi itu barangkali mewakili perasaan kita semua, perasaan sebuah pesona teduh di hadapan Allah. Malam itu, dibawanya oleh jibril Rosul mulia ke Masjidil Aqsa. Khatidjah, istri setia penawar beban itu telah tiada. Pun dengan sang pelindung penuh kasih, meski enggan beriman, Abu Thalib, juga telah meninggal. Buraq diikatkan di pintu Masjidil Aqsha ketika seluruh Nabi dan Rasul berhimpun disana. Mereka shalat dengan Rosulullah sebagai imamnya. Dari sinilah sang Nabi berangkat untuk perjalanan yang menyejarah. Disertai Jibril ia naik ke langit dari lapis ke lapis. Bertemu Adam, Yahya, ‘Isa, Yusuf, Idris, Harus, Musa, dan Ibrahim. Sampailah Muhammad di Sidratul Muntaha, Baitul Ma’mur, dan naik lagi hingga jaraknya kurang dari dua ujung busur. Jika seseorang dihadapan Ka’bah saja sudah membuat perasaan begitu meluap, ektase, haru, syahdu, membuat air mata khusyuk jatuh, atau bisa bisa dikatakan membuat jiwa kita penuh. Dan apa kiranya perasaan Muhammad waktu itu? Kesyahduan. Keterpesonaan. Kesejukan. Kenikmatan ruhani. Jiwa yang sangat lega. Puncak kenikmatan. Cita-cita. Tiada tara.
Tapi Sidratul Muntaha bukanlah penghentian. Maka sang Nabipun turun ke bumi juga akhirnya. Jika puisi iqbal dan sang sufi menjadikan ektase kenikmatan ruhani itu sebagai tujuan cinta mereka misal, sang Nabi faham benar dengan letak tugas dan cinta yang diletakkan pada tempat yang tepat. Cintanya sudah menjadi cinta visioner, hidupnyapun begitu, on mission. Maka dari itu, sang nabi cukup menjadikannya sebagai tempat rehat. Sesudah itu ia tahu tugas penciptaannya. Ia tahu jalan cinta yang dijalaninya. Menyuruh kepada yang ma’ruf, mencegah kepada yang munkar, dan beriman kepada Allah. Kerja-kerja besar itulah yang mewujudkan kota Madinah menyala dengan iman dan kebaikan. Lalu Jazirah Arab, lalu Persi, Lalu Romawi, Lalu dunia. Dan Iqbal pun menulis;
Padaku malaikat menawarkan,
“Tinggallah di langit ini, bersama syahdu sujud-sujud kami
Bersama kenikmatan-kenikmatan suci”
“Tidak!”, kataku, “Di bumi masih ada angkara aniaya
Di sanalah aku mengabdi, berkarya, berkorban
Hingga batas waktu yang telah ditentukan.”
(Diambil dan disarikan dari buku Serial Cinta – anis matta – , dan Jalan Cinta Para Pejuang – Salim Fillah)

Ikhwati fillah, momentum TKJS 2 kali ini, kita tidak hanya akan membahas mimpi-mimpi peradaban itu. Tidak hanya mimpi memiliki pemimpin umat yang adil, maupun mimpi akan adanya masyarakat ideal. Akan tetapi, ada hal yang sangat substansial sepanjang masa dan harus tertancap kuat dalam diri kita, yang kemudian kita gelorakan. kita akan kembali merenung tentang asholah dakwah kita. Iman.
Iman yang sesungguhnya–kata Yusuf Qardlawi- adalah kepercayaan yang terhujam di kedalaman hati dengan penuh keyakinan, tak ada perasaan syak dan ragu-ragu, serta mempengaruhi orientasi kehidupan, sikap, dan aktifitas keseharian.
“Dan di antara manusia ada yang mengatakan: kami beriman kepada Allah dan hari kemudian, padahal sesungguhnya mereka itu bukan orang-orang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang (benar-benar) beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar.” (QS. Al-Baqoroh: 8-9)
Orientasi kehidupan kata syeikh diatas, berarti segala aktifitas kehidupan (termasuk aktifitas dakwah) yang memiliki pandangan lurus berupa tujuan murni. Bukan eksistensi diri lagi yang dituju, bukan perasaan ingin dicintai lagi, maupun bukan niatan pemanfaatan pragmatisme keduniawian yang diinginkan. Akan tetapi, secara hakikat kita memiliki amanah besar, abdullah. Kita sangat perlu merenung apakah kita ternyata sudah tercampur faham barat yang mengagungkan materialisme? Yang aktifitas dakwah nantinya nampak seperti kesempatan pemenuhan atas kebutuhan duniawi. Ah, kata duniawi sudah sangatlah kabur. Bagaimana jika saya ganti dengan kata “kebutuhan karier”, atau “kebutuhan eksistensi diri dimata orang lain”, atau lebih melebar lagi menjadi “kebutuhan atas obsesi”.
Bisa jadi lain hal, kita terlanjur terjebak dalam teori orang timur, sosialisme, terlebih marxisme yang bergerak atas nama keprihatinan. Ah, kata keprihatinan juga begitu simpang siur. Bagaimana jika saya ubah menjadi “bergerak atas nama kesungkanan”, atau “kepatutan”, “ketidaktegaan?”? yang jika kita berfikir itu pekerjaan hati, kita perlu mengoreksinya. Apakah benar pekerjaan hati atau hanya sebuah letupan emosi, yang kesemuanya bagaikan debu tak bersisa ketika Allah tidak hadir didalamnya, ketika kita kabur dengan substansi amanah. Cinta murni.
“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk mengerjakan shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya dihadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” (QS. An-Nisa:142)
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS. Al-Hujurat:15)
Dan terakhir kami mengucapkan selamat menyelami samudra ilmu, merasakan samudra kedewasaan, samudra yang membuat faham penyelamnya, sekaligus samudra peristirahatan sejenak, sejenak untuk merenung tentang kehidupan, yang selanjutnya kehidupan itu kita perjuangkan.
Ahmad Mujib *(ketika_mujibazzampergi2@yahoo.com)

Tinggalkan Balasan