Langit sore waktu itu tampak bermerah senja. Pekat sekali warnanya. Anak-anak Salman Al Farisi masih saja bermain riang tak tahu waktu. Sedang motor tuaku dengan tenang berjalan pelan menuju rumah kontrakanku, M-Top. Dari sebrang sana nampak nenek beserta rukuh lengkapnya yang rapat sedang menatap lekat beberapa anak-anak bermain. Menanti adzan maghrib.
Royyan, pemuda junkies itu menyapaku tanpa senyum. Badan kurusnya sedang sibuk mengotak-atik catur bersama lawan mainnya, Rohman. Sejenak kurebahkan tubuh lelahku disofa lusuh itu.
“dari mana jib?” Tanya wiraharja
“biasa” jawabku enteng
Baca entri selengkapnya »
Ditulis oleh mujibahmad