EKSES

Langit sore waktu itu tampak bermerah senja. Pekat sekali warnanya. Anak-anak Salman Al Farisi masih saja bermain riang tak tahu waktu. Sedang motor tuaku dengan tenang berjalan pelan menuju rumah kontrakanku, M-Top. Dari sebrang sana nampak nenek beserta rukuh lengkapnya yang rapat sedang menatap lekat beberapa anak-anak bermain. Menanti adzan maghrib.
Royyan, pemuda junkies itu menyapaku tanpa senyum. Badan kurusnya sedang sibuk mengotak-atik catur bersama lawan mainnya, Rohman. Sejenak kurebahkan tubuh lelahku disofa lusuh itu.
“dari mana jib?” Tanya wiraharja
“biasa” jawabku enteng

Dudukku mulai disibukkan dengan perenungan. Masih saja terngiang dengan apa yang kulihat tadi. Nenek itu begitu menantikan waktu maghrib. Apa memang karena begitu dekatnya dengan kematian? Kematian yang selalu membayanginya sehingga hidup begitu semangat dalam beribadah. Entahlah. Yang jelas disebelahku dua pemuda sedang menghabiskan waktu mereka dengan bermain catur. Presiden menghabiskan waktu demi rakyat, ketua MPR pun pergi ke Arab untuk menyelamatkan saudara di Palestina.

Kematian itu sebuah keniscayaan. Dan apa guna waktu, jika lambat laun kita akan mati juga. Tapi yang menjadi inti mencolok adalah ekses dari kedekatan seseorang terhadap kematian itu.

Tinggalkan Balasan